
Foto: bbc
Sekte Syi’ah kerap menebar kekejian dan kebiadaban kepada kaum muslimin.
Sejarah mencatat lembaran demi lembaran kelam kejahatan mereka dan tidak ada
seorang pun yang dapat mengingkarinya. Berikut adalah diantara sebagian ‘kecil’
catatan sejarah kejahatan mereka yang digoreskan oleh para ahli sejarah Islam.
Mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dan berhati-hati, karena sejarah
seringkali terulang.
Jatuhnya
Kota Baghdad
Pada tahun 656 H, Hulagu Khan, Raja Tatar berhasil menguasai kota Baghdad
yang saat itu menjadi pusat peradaban Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyyah.
Keberhasilan invansi Tatar ini tidak lepas dari peran dua orang Syi’ah. Yang
pertama adalah seorang menteri pengkhianat khalifah Muktashim yang bernama
Mu`yyiduddin Muhammad Ibnul Alqamy. Dan yang kedua adalah seorang ahli nujum
Nashirudin Ath Thusi penasehat Hulagu.
Pada akhir kepemimpinan khalifah Mustanshir, jumlah pasukan Bani Abbasiyyah
mencapai seratus ribu pasukan. Sepeninggal Mustanshir dan tampuk kepemimpinan
dipegang oleh Muktashim, Ibnul Alqamy membuat usulan-usulan kepada khalifah
untuk mengurangi jumlah pasukan dengan alasan untuk menghemat biaya. Hal itu
pun diikuti oleh khalifah. Padahal itu merupakan taktik untuk melemahkan
kekuatan pasukan. Hingga akhirnya jumlah pasukan hanya sepuluh ribu saja.
Pada saat yang sama, Ibnul Alqami menjalin hubungan gelap dengan Hulagu. Ia
sering menulis surat kepada Hulagu dan memberinya motivasi untuk mengusai
Baghdad serta berjanji akan membantunya sambil menggambarkan kondisi pertahanan
Bagdad ketika itu yang semakin melemah. Itu semua ia lakukan demi memberantas
sunnah, menampakkan bid’ah rafidhah dan mengganti kekuasaan dari Bani
Abbasiyyah kepada Alawiyyah.
Pasukan Hulagu pun kemudian bergerak menuju Bagdad. Pasukan Khalifah baru
menyadari bahwa Tatar telah bergerak masuk. Upaya penghadangan Tatar yang
dilakukan oleh khalifah gagal hingga akhirnya Tatar berhasil menguasai sebagian
wilayah Bagdad. Dalam kondisi itu, Ibnul Alqami mendatangi Hulagu dan membuat
perencanaan dengannya kemudian kembali kepada khalifah Muktashim dan
mengusulkan kepadanya untuk melakukan perdamaian seraya berkata bahwa Hulagu
akan tetap memberinya kekuasaan sebagaimana yang Hulagu lakukan terhadap
penguasa Romawi. Ia pun berkeinginan menikahkan putrinya dengan anak laki-laki
kahlifah yang bernama Abu Bakar. Ia terus mengusulkan agar penawaran itu
disetujui oleh khalifah. Maka khalifah pun berangkat dengan membawa para
pembesar pemerintahannya dalam jumlah yang sangat banyak (dikatakan sekitar
1200 orang)
Khalifah menempatkan rombongannya di sebuah tenda. Lalu menteri Ibnul
Alqami mengundang para ahli fikih dan tokoh untuk menyaksiakan akad pernikahan.
Maka berkumpulah para tokoh dan guru Bagdad yang diantaranya adalah Muhyiddin
Ibnul Jauzi beserta anak-anaknya untuk mendatangi Hulagu. Sesampainya di tempat
Tatar, pasukan Tatar malah membunuhi mereka semua. Begitulah setiap kelompok
dari rombongan khalifah datang dan dibantai habis semuanya. Tidak cukup sampai
disitu, pembantaian berlanjut kepada seluruh penduduk Bagdad. Tidak ada yang
tersisa dari penduduk kota Bagdad kecuali yang bersembunyi. Hulagu juga
membunuh khalifah dengan cara mencekiknya atas nasehat Ibnul Alqami.
Pembantaian Tatar terhadap penduduk Bagdad berlangsung selama empat puluh
hari. Satu juta korban lebih tewas dalam pambantaian ini. Kota Bagdad hancur
berdarah-darah, rumah-rumah porak-poranda, buku-buku peninggalan para ulama
dibakar habis dan Bagdad pun jatuh kepada penguasa kafir Hulagu Khan.
Selain peran Ibnul Alqami, peristiwa ini juga tidak lepas dari peran
seorang Syi’ah lainnya bernama Nashirudin At Thushi, penasehat Hulagu yang dari
jauh-jauh hari telah mempengaruhi Hulagu untuk menguasai kota Bagdad. [Lihat Al
Bidayah wa Al Nihayah, vol. 13, hal. 192, 234 – 237, Al-Nujuum Al Zaahirah fii
Muluuk Mishr wa Al Qahirah, vol. 2, hal. 259 – 260]
Konspirasi
Syi’ah Ubaidiyyah dan Pasukan Salib
Ketika kerajaan Islam Saljuqi sedang dalam pengintaian pasukan salib,
orang-orang Syi’ah Ubaidiyyah yang menamakan diri mereka sebagai Fathimiyyah
memanfaatkan keadaan. Ketika pasukan salib sedang mengepung Antakia, mereka
mengirim utusan kepada pasukan salib untuk melakukan kerjasama dalam memerangi
kerajaan Islam Saljuqi serta membuat perjanjian untuk membagi wilayah selatan
(syiria) untuk pasukan salib dan wilayah utara (palestina) untuk mereka.
Pasukan salib pun menyambut tawaran itu.
Maka, terjadilah pertempuran antara pasukan salib dan pasukan Saljuqi. Saat
terjadi peperangan antara pasukan Saljuqi dengan pasukan salib, orang-orang
Syi’ah Ubaidiyyah sibuk untuk memperluas kekuasaan mereka di Pelestina yang
saat itu berada di bawah kekuasaan Saljuqi.
Akan tetapi kemudian pasukan salib mengkhianati perjanjian mereka dan
merangsek masuk ke wilayah Palestina pada musim semi tahun 492 H dengan
kekuatan seribu pasukan berkuda dan lima ribu invanteri saja. Pasukan
Ubaidiyyah melawan mereka namun demi tanah dan diri mereka saja, bukan untuk
jihad. Hingga satu per satu dari daerah Palestina jatuh ke tangan pasukan salib
dan mereka pun membantai kaum muslimin. Mereka membunuhnya di depan Masjid Al
Aqsha. Lebih dari tujuh puluh ribu orang tewas dalam peristiwa berdarah itu,
termasuk para ulama. [Lihat Tarikh Islam, Mahmud Syakir, vol. 6, hal. 256-257,
Tarikh Al Fathimiyyin, hal. 437]
Syi’ah
Qaramithah
Al Hafidz Ibnu Katsir dalam (Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 11, hal. 149)
menceritakan, di antara peristiwa pada tahun 312 H bulan Muharram, Abu Thahir
Al Husain bin Abu Sa’id Al Janabi –semoga Allah melaknatnya- menyerang para
jemaah haji yang tengah dalam perjalanan pulang dari baitullah dan telah
menunaikan kewajiban haji. Mereka merampok dan membunuh mereka. Korban pun
berjatuhan dengan jumlah yang sangat banyak –hanya Allah yang mengetahuinya.
Mereka juga menawan para wanita dan anak-anak mereka sekehendaknya dan merampas
harta mereka yang mereka inginkan.
Ibnu Katsir juga menceritakan pada tahun 317 H, orang-orang Syi’ah
Qaramithah telah mencuri hajar aswad dari baitullah. Dalam tahun itu, rombongan
dari Iraq yang dipimpin orang Manshur Ad Daimamy datang ke Makkah dengan damai.
Kemudian pada hari tarwiyah, orang-orang Qaramithah menyerang mereka, merampas
harta dan membantainya di masjidil haram, di depan Kabah. Para jemaah
haji berhamburan. Diantara mereka ada yang berpegangan dengan kain penutup
Kabah. Akan tetapi itu tidak bermanfaat bagi mereka. Orang-orang Qaramithah
terus membunuhi orang-orang. Setelah selesai, orang-orang Qaramithah membuang
para korban di sumur zamzam dan tempat-tempat di masjidil haram.
Qubbah zamzam dihancurkan, pintu kabah dicopot dan kiswahnya dilepaskan
kemudian dirobek-robek. Mereka pun mengambil hajar aswad dan membawanya pergi
ke negara mereka. Selama dua puluh dua tahun hajar aswad beserta mereka hingga
akhirnya mereka kembalikan pada tahun 339 H.
Daulah
Shafawiyyah (Cikal Bakal Syi’ah di Iran)
Dahulu, hampir sembilan pulun persen penduduk Iran menganut akidah ahli
sunnah bermadzhab Syafi’i. Hingga pada abad ke sepuluh hijriyah tegaklah daulah
Shafawiyyah dibawah kepamimpinan Isma’il Ash-Shafawi. Ia pun kemudian
mengumumkan bahwa ideologi negera adalah Syi’ah Imamiyyah Itsna Asyriyyah,
serta memaksa para warga untuk juga menganutnya.
Ia sangat terkenal sebagai pemimpin yang bengis dan kejam. Ia membunuh para
ulama kaum muslimin beserta orang-orang awamnya. Sejarah mencatat, ia telah
membunuh sekitar satu juta muslim sunni, merampas harta, menodai kehormatan,
memperbudak wanita mereka dan memaksa para khatib ahli sunnah untuk
mencela para khalifah rasyidin yang tiga (Abu Bakar, Umar dan Ustman –semoga
Allah meridhai mereka) serta untuk mengkultuskan para imam dua belas.
Tidak hanya itu, ia juga memerintahkan untuk membongkar kuburan ulama kaum
muslimin dari kalangan ahli sunnah dan membakar tulang belulangnya.
Daulah Shafawiyyah berhasil memperluas kekuasaannya hingga semua penjuru
daerah Iran dan wilayah yang ada di dekatnya. Ismail Shafawi berhasil
menaklukkan daulah Turkimaniyyah berakidah ahli sunnah di Iran, kemudian Faris,
Kirman dan Arbastan serta yang lainnya. Dan setiap peristiwa penaklukan itu, ia
membunuh puluhan ribu ahli sunnah. Hingga ia pun berhasil menyerang Bagdad dan
menguasainya. Ia pun melakukan perbuatan kejinya kepada ahli
sunnah disana.
Wallahua'lam
(Dinukil dari Tuhfatul Azhar wa Zallaatu al Anhar, Ibnu Syaqdim As-Syi’i
via al Masyru’ al Irani al Shafawi al Farisi, hal. 20 -21/muslim.or.id)



Posting Komentar