Kondisi masyarakat yang cenderung permisif dan jauh dari peradaban adalah efek langsung dari rusaknya perguruan tinggi di Indonesia. Depok Islamic Study Circle (DISC) mengangkat tema terkiat perguruan tinggi dalam kajian mingguannya di Masjid Ukhuwwah Islamiah Komplek Universitas Indonesia, Depok (18/10/2013).
Mengutip pemikir besar muslim seperti Prof. Wan Daud, Prof. Naquib Al Attas, dan Dr. Majid Irsan Al Kilani, Pemateri diskusi Tri Subhi Abdillah dari komunitas Nuun menjelaskan bahwa perguruan tinggi sebagai pencetak generasi pemikir cendikiawan adalah cermin utama dari masyarakat umum.
“Bagaimana mungkin masyarakat ini bisa beradab, kalau perguruan tinggi serta universitasnya justru telah lebih dulu kehilangan adab,” tukasnya.
Kerusakan utama yang dialami oleh hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia adalah hilangnya adab. Hilangnya adab dalam perguruan tinggi ini melahirkan tiga persoalan utama yaitu Sekularisme, ketimpangan ilmu fardu ain dan fardu kifayah serta korporasi/industrialisasi perguruantinggi.
Sekularisme di sini, kata Shubhi, berada dalam ranah filosofis bahwa ilmu saat ini justru membuat mahasiswa jauh dari Tuhan, ketimpangan ilmu antara mana yang ain mana yang kifayah membuat seluruh elemen kampus terjebak dalam kebingungan, karena tantangan modernism tidak dibarengi dengan pemahaman tauhid yang mumpuni.
“Sementara korporasi/industrialisasi perguruan tinggi telah membuat kampus itu sebagai pabrik dan mahasiswa sebagai komoditasnya,” jelasnya. [eza/Islampos]




Posting Komentar