Jakarta - Entah apa yang diinginkan oleh Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Bung Karno. Ia menganggap tak satupun tokoh di PDI Perjuangan cocok menjadi calon presiden di 2014 mendatang.
Dari Ketua Umum PDI Perjuangan, yang juga kakak kandungnya, Megawati Soekarnoputri, keponakannya Puan Maharani, hingga Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), dianggapnya tak cocok.
"Tapi itu murni pendapat saya pribadi lho. Jangan dibuat seolah-olah ada yang mengendalikan saya. Tidak ada satu partai pun atau organisasi atau pihak manapun yang bisa mengendalikan saya," kata Guruh di Jakarta, Jumat (25/10).
Misalnya Jokowi, menurut Guruh, masih harus lebih banyak belajar dan menyelesaikan tugasnya sebagai gubernur Jakarta. Apalagi kalau jadi presiden, kata Guruh, seseorang itu harus tahu semua masalah.
Sementara survei yang menunjukkan elektabilitas Jokowi tertinggi juga tak dianggapnya sebagai sesuatu yang sahih. Alasannya, tka semua masyarakat paham akan survey. Kerap kali karena seseorang sering muncul di media massa, akhirnya jadi terpilih.
"Lalu siapa yang cocok dari PDIP?" Tanya wartawan.
"Tidak ada. Bahkan Puan pun menurut saya belum cocok untuk jadi capres. Masih banyak yang harus dia pelajari," kata Guruh.
"Kalau Ibi Megawati?" Tanya wartawan lagi.
"Juga tidak cocok. Sudah bukan zamannya lagi buat dia. Saya ini kan yang paling mengerti Bu Mega," kata Guruh.
Walau demikian, Guruh juga menganggap bahwa dari parpol lain sekalipun, tak ada nama capres yang benar-benar pantas karena ideologinya tak sesuai dengan kebutuhan negara dan bangsa Indonesia.
"Yang saya lihat capres-capres yang muncul itu ideologinya, aduh...karena pada masa Orde Baru itu kan materialistik sekali ideologinya," kata Guruh.
Dia menilai bahwa belum ada tokoh yang benar-benar memahami Pancasila sebagai deologi negara. Apabila tak memahami, tentu tak bisa melaksanakannya, kata dia.
"Misalnya tentang Presiden Soekarno juga, hanya disebut sebagai presiden pertama saja, sebagai proklamator. Tetapi tidak diajarkan bahwa dia itu penggali Pancasila. Apalagi soal Marhaenisme. Pasti tidak diajarkan itu," jelas Guruh.(beritasatu)




Posting Komentar