![]() |
| KH Hasyim Muzadi bersama KH M Al Khaththath dan HM Aru Syeiff Assadullah di serambi Masjid di Pesantren Al Hikam, Depok, Jawa Barat. |
Lalu, bagaimana cara agar umat Islam bisa memenangkan 'peperangan' ini?.
"Dalam Perang Ahzab, setahu saya kita memulainya dari konsolidasi kita ke dalam diri kita dulu. Tidak dimulai dari marah-marah kita kepada orang lain atau kepada semua orang," kata mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi saat berbincang dengan Sekjen FUI KH M Al Khaththath dan Pemred Tabloid Suara Islam HM Aru Syeiff Assadullah di Pesantren Al Hikam, Kukusan, Depok, Jawa Barat, Rabu (2/10) lalu.
Konsolidasi internal yang dimaksud Kiyai Hasyim adalah saling silaturahmi dan koordinasi di antara ormas dan gerakan Islam yang ada.
"Maksud saya, kita harus saling bersilaturahmi, saling berkoordinasi, yang Mujahidin, yang FPI, yang Muhammadiyah, yang NU yang masih waras, yang MIUMI, dan yang lain itu kan bisa saling bertemu, ngobrol, nanti masing-masing mengeluarkan pendapatnya biar yang lain dengar," sarannya.
Kiyai Hasyim menyadari ormas dan gerakan Islam itu sulit akan bisa disatukan jalan, tetapi minimal niatnya bisa disamakan. "Karena udkhullu min abwabi mutafarriqon(masuklah dari pintu-pintu yang berbeda-beda, red)," ungkapnya.
"Setelah ada kesadaran, tidak saling menyalahkan dan mencemooh masing-masing, baru kita inventarisir. Kemudia kita saling bergerak, bersinergi, menyatukan kekuatan, insya Allah kita tidak akan seperti sekarang ini lagi," pungkasnya.
Selain sinergi ormas Islam, Kiyai Hasyim juga mengingatkan harus adanya sinergi antara ormas dengan partai politik. Menurutnya, yang berkewajiban membawa Islam di negara ini adalah partai. Sayangnya, ormas Islam yang memiliki aspirasi justru putus dengan partai yang menempati kedudukan.
"Sehingga partai yang stempelnya partai Islam tetapi qauliyah (perkataan)-nya kan tidak berbeda dengan partai sekuler dan partai yang lain. Terus nanti siapa yang akan mengingatkan," katanya.
Kiyai Hasyim berharap antara ormas Islam dengan partai terjadi sinergi. Sehingga kondisi umat Islam akan menjadi lebih baik, tidak seperti yang terjadi saat ini.
"Kalau saja potensi Islam di parlemen itu berkualitas dan mereka saling dukung-mendukung ya kemungkinan tidak terjadi seperti sekarang ini.," pungkasnya.
*SI Online




Posting Komentar