Jakarta-Meskipun, pemilihan presiden masih lebih lima bulan, tetapi
mereka yang sudah sangat kebelet menginginkan Jokowi jadi presiden di 2014,
sudah tidak dapat menutupi "wajahnya" lagi.
Karena itu, sekarang mereka memanfaatkan
segala momen atau kegiatan untuk melakukan sosialisasi tokoh pujaannya. Mereka
akan berjibaku dengan segala cara memenangkan tokoh yang baru setahun menjadi
gubernur DKI ini.
Seperti saat hari minggu, di sepanjang Jalan
Sudirman dan Thamrin, di mana ada kebijakan car free day, para pendukung Jokowi sebagai
calon presiden (capres) 2014, berkampanye di acara car free day, di depan
Bundaran HI Jakarta, Minggu (3/11/2013).
Mereka menamakan diri Barisan Relawan
Jokowi Presiden 2014 (Bara JP 2014). Puluhan relawan ini menggalang tanda
tangan peserta car
free day untuk mendukung Jokowi sebagai capres 2014.
Beberapa lagi terlihat menandatangani
kain berukuran dua meter yang telah dibubuhkan tanda tangan oleh peserta yang
lainnya. Mereka juga membagikan kartu nama DPP Bara JP 2014. Di kartu nama ini,
mereka mencantumkan visi misi Jokowi.
Bara JP 2014 ini juga yang memaksa PDIP
pada Rakernas III awal September 2013 menetapkan Jokowi sebagai capres PDIP
2014. Mereka melalui berbagai tokoh politik, dan memiliki kedekatan
maupun pengaruh terhadap Mega, berusaha mempeta-comply (memaksa) Mega, nantinya
mengeluarkan kartu"Jokowi"
di pilpres di tahun 2014.
Mereka sangat yakin-seyakinnya, bahwa
Jokowi akan menjadi presiden mendatang. Mereka juga menggunakan cara-cara
perdukunan dan perklenikan, khususnya dalam rangka mendukung Jokowi. Karena,
perdukunan dan perklenikan ini, mereka yakini dapat membantu suksesnya Jokowi
di pilpres nanti.
Di bagian lain, mereka-aktivis pendukung Jokowi ini, sekarang menggunakan baju serba putih dengan gambar Jokowi, mereka aktif memprovokasi dukungan untuk Jokowi kepada peserta car free day yang memadatinya. Momen yang ada setiap minggu pagi, tidak mereka sia-siakan, mereka gunakan mengkampanyekan Jokowi.
Di bagian lain, mereka-aktivis pendukung Jokowi ini, sekarang menggunakan baju serba putih dengan gambar Jokowi, mereka aktif memprovokasi dukungan untuk Jokowi kepada peserta car free day yang memadatinya. Momen yang ada setiap minggu pagi, tidak mereka sia-siakan, mereka gunakan mengkampanyekan Jokowi.
Mereka tidak lagi menggunakan baju
kotak-kotak merah, karena sudah tidak"ngaruh" alias "sakti" lagi
di masyarakat. Karena, calon gubernur dari PDIP di Jawa Barat dan Jawa Timur,
Bali, dan Sumatera Utara yang menggunakan Jokowi, ternyata kalah.
Sekarang relawan Jokowi menggunakan baju
mirip Jokowi dengan baju putih. Baju putih sebagai citra, Jokowi itu
suci-bersih, tidak tersentuh korupsi. Di mana sekarang kasus korupsi mendera
para politisi dan pejabat di negeri ini.
Apalagi, saat Jokowi
menyelengarakan "religius
night" malam Idul Adha di Monas, dan Jokowi menggunakan baju
koko, plus sorban putih, bikin penduduk DKI bisa-bisa ngiler, dan ketipu. Ini
sebuah modus dan taktik yang ingin dijalankan oleh Jokowi, agar masyarakat
Jakarta yang "religius" tidak
usil terhadap Jokowi, dan bahkan dapat mendukunghya nanti di tahun 2014.
Dibagian lain, gerakan Joko
Widodo "for
president 2014" telah memunculkan cyber armys
alias pasukan dunia maya. Kelompok ini siap menghantam setiap saat bila
ada siapapun yang mengkritik Jokowi.
Gerakan ini didesain oleh berbagai media
di Jakarta, dan dibelakangnya kepentingan konglomerat Cina yang sudah "in group" dengan
Mega. Ini sebuah desain besar, dan memang ingin berjuang menggoalkan
Jokowi.
Pernyataan Jokowi menggunakan Cyber Armys
(pasukan dunia maya) yang mengelilingi Jokowi, dimunculkan oleh mantan Ketua
MPR Amien Rais.
Belakangan pernyataan Amien diamini oleh
lainnya. Pengakuan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Achmad Mubarok ihwal
pasukan dunia maya di sekitar Jokowi membenarkan informasi Amien Rais
sebelumnya.
"Sudah banyak orang yang mengatakan
bahwa Jokowi tidak bisa dikitrik, karena akan ada serangan balik caci
maki.Serangan caci maki ini tidak alamiah dan dilakukan oleh tim dengan
memanfaatkan teknologi dan media sosial," ujar Mubarok kepada wartawan
saat dihubungi, Jumat (1/11/2013).
Pernyataan ini melengkapi pernyataan sebelumnya yang disampaikan mantan Ketua MPR Amien Rais. Menurut dia, ada kekuatan besar yang mengarahkan Jokowi pada aras politik seperti saat ini, salah satunya keberadaan pasukan dunia maya.
Pernyataan ini melengkapi pernyataan sebelumnya yang disampaikan mantan Ketua MPR Amien Rais. Menurut dia, ada kekuatan besar yang mengarahkan Jokowi pada aras politik seperti saat ini, salah satunya keberadaan pasukan dunia maya.
"Pengerahan cyber armys, orang
kritik Jokowi di media, nanti ada ratusan yang menghantam tanpa ampun dengan
kata-kata semestinya tidak layak," ungkap Amien yang mengaku tidak gentar
dengan komentar-komentar pendukung Jokowi.
Amin Rais membuat kelompok pendukung
Jokowi meradang dan mendidih, saat Amin membuat pernyataan jangan memilih
pemimpin "kafir".
Pernyataan Amin ini membuat kalangan
pendukung Jokowi, sangat murka, karena Jokowi dianggap manusia sempurna, tanpa
cacad. Padahal, Jokowi hanyalah manusia "jadi-jadian" yang
ingin dipakai oleh konglomerat hitam (Cina) mencaplok Republik ini, dan pribumi
menjadi budak mereka.
Padahal, kalau di itung-itung
Jokowi setahun menjadi Gubernur DKI, belum ada yang dapat diacungi jempol.
Paling-paling lelang jabatan, plus-ngusir pedagang kaki lima dari Tanah Abang,
Pasar Minggu, atau memindahkan kaum jembel penghuni danau Sunter, membuat
target "2014 DKI Bebas Topeng Monyet", dan sekarang mau melakukan
denda pelanggar jalur "Bus way", atau memberikan proyek kepada
konglomerat Edward Soerjadjaja. Baru cuma segitu prestasi Jokowi.
Selebihnya, penataan kawasan kumuh,
Jakarta Utara yang kena rob, banjir, kemacetan, dan bahkan sekarang Jokowi,
punya musuh baru, yaitu kalangan buruh, di mana Jokowi sudah mengetuk palu,
buruh DKI dihargai oleh Jokowi hanya Rp.2,4 saja.
Di Bekasi saja UMR sudah Rp 2,9 juta. Omo
tumon Jokowi? Jokowi yang memiliki "jimat" bernama "blusukan", dan
selalu dicitrakan dekat dengan "wong
cilik", tetapi kenyataan dalam waktu satu tahun menjadi
Gubernur DKI yang menjadi "korban" wong
cilik.
Jadi? Anak buah Mega ini membela kaum
lemah-buruh atau pemilik modal? Pasti membela konglomerat, persis seperti
bosnya, Mega, yang digembar-gemborkan sebagai pemimpin PDIP yang membela
kepentingan wong cilik.



Posting Komentar