Azaria Network
Aquamina :
Home » » Hijrah Menjadi Manusia Indonesia yang Cerdas

Hijrah Menjadi Manusia Indonesia yang Cerdas


Hj. HERLINI AMRAN, MA.


Oleh : Hj, Herlina Amran MA* 


Dalam umur zaman ada hari-hari yang bersejarah, waktu telah berlalu, namun ia kekal dalam memori kemanusiaan, hari-hari tersebut ditakdirkan untuk merubah arus sejarah, meluruskan perjalanan hidup manusia, hari tersebut adalah hari Hijrah.

Hari yang tak akan dilupakan walau hari silih berganti hari, tahun silih berganti tahun, namun hari-hari bersejarah tersebut tak terlupakan.

Bagaimana mungkin bisa dilupakan, jika hari tersebut adalah pemisah antara kebenaran dan kebatilan, penyingkap antara cahaya dan kegelapan, pembuka zaman keemasan, dan sejarah yang penuh dengan kepahlawanan gilang gemilang dan teladan mulia.

Karena keistimewaan hari bersejarah inilah sehingga kaum muslimin memberikan penghargaan dengan menjadikan hijrah sebagai permulaan penanggalan kehidupan, kaum muslimin tidak memulai penangalannya dengan hari kelahiran nabi mereka, bukan juga hari diutusnya Rasulullah, namun kaum muslimin memulainya dengan hijrahnya. Karena Hijrah menyimpul berbagai makna, memberikan ajaran dan menjelaskan visi dan misi besar kehidupan manusia.

Hijrah bukanlah sekedar perjalanan dari Makkah menuju Madina, karena berapa banyak orang di dunia ini yang malakukan perjalanan yang jauh lebih lama, lebih jauh dan lebih susah. Hijrah bukan sekedar perpindahan dari tempat ke tempat, karena berapa banyak orang yang lalu lalang yang memenuhi lalu lintas berjalanan, darat maupun udara, dari satu negeri ke negeri lain, memburu kekayaan, atau sekedar untuk mencari peristrahatan, atau kerena lari dari kesempitan hidup! Hijrah tak lain adalah keimanan dan pengorbanan, cinta dan persaudaraan, reformasi dan perubahan. Dan itulah yang tercermin dalam diri Rasulullah Saw., dan para sahabatnya, hingga mereka berhak mendapatkan kejayaan dunia akhirat, mereka menjadi generasi yang memimpin peradaban dunia, dan mengantar manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hijrah adalah semangat perubahan, spirit reformasi, berpindah dari satu kondisi ke kondusi yang lebih baik, inilah spirit yang diajarkan oleh Rasulullah, hingga memerintahkan sahabatnya hijrah dari Makkah menuju Madinah, kota yang menjadi pusat membangun peradaban.

Bangsa Indonesia yang telah merdeka 68 tahun silam, dan telah melakukan agenda reformasi nasional 15 tahun sejak 1998. Benar kita telah melakukan perubahan nasional, mulai dari lembaga tinggi Negara (MPR) hingga desa dan kelurahan, kita telah melakukan perombakan hokum, mulai dari lembaga hokum tertinggi Mahkamah Konstitusi hingga peraturan pedesaan. Namun jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga, kita masih tertinggal jauh. Sesuai laporan UNDP bulan Maret 2013. Indonesia masih jauh tertinggal di bawah, Malaysia bertengger di urutan 64 dunia, Singapura di urutan 18 dunia, Brunai Darussalam urutan 30 dunia, Thailand  urutan 103, Indonesia masih bertengger di urutan 121 atau Indonesia masih terhitung kelas menengah (Medium Human Development).

Sementara laporan Corruption Perception Index 2012 (CPI), skor Indonesia 32 atau berada di urutan 118 dari 176 negara, jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga Indonesia belum bisa keluar dari situasi korupsi yang mengakar. Singapura, 87-5, Brunei Darussalam 55-46, Malaysia 49-54, Thailand, 37-88, Filipina 34-108, Indonesia 32-118. Metode indeks CPI yaitu 0-100 (0 paling korup, 100 paling bersih) dan Indonesia masih bertahan di nomer rendah 32. Kita telah melakukan reformasi di segala lini, segala aturan telah dibuat, lembaga eksuktif, legistlatif dan yudikatif, tapi kita masih banyak mendengarkan aparat pejabat Negara yang korupsi, pejabat hokum yang kurupsi, anggota dpr yang korupsi dan sebagainya.

Ini menandakan walaupun kita telah melakukan perubahan dan format besar-besar secara structural dan instrument yang kita harapkan dapat menciptakan kondisi ideal yang sama-sama kita impikan, namun sumber daya manusia yang kita andalkan untuk membawa kita ke cita-cita reformasi itu, masih tertinggal, belum memenuhi standar reformasi. Hingga reformasi yang telah kita lakukan selama 15 tahun hanya menghasilkan Indeks korupsi urutan 32.  Perubahan mendasar tidak dibarengi dengan kualitas individu yang menjalankan perubahan tersebut, berbagai aturan perubahan kita telah adapsi dan buat, namun individu dan kualitas yang menjadalankan masih terkungkung pada warisan lama, masih tertinggal, masih bersarang karakter korup dalam dirinya. Maka terjadilah kesenjangan antara instrument atau aturan di satu pihak dan prilaku dan tradisi di pihak lain.

Dalam artian bahwa kita masih butuh melakukan hijrah atau reformasi mentalitas, reformasi moralitas dan reformasi karakter manusia kita. Sesuai dengan cita-cita bangsa yang ada dalam pembukaan UUD 45 Alinea ke empat yaitu kehidupan bangsa yang cerdas (mencerdaskan kehidupan bangsa). Maka kita membutuhkan pendidikan karakter, pendidikan akhlak, pendidikan moral, pendidikan yang dapat meningkatkan keimanan, menambah ketakwaan agar bangsa ini menjadi cerdas, sesuai dengan cita-cita pendidikan nasional kita yang termaktub dalam UUD 45, Pasal 31 Ayat 3 yang berbunyi: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.".

Hijrah dan reformasi itu, adalah hijrah keimanan, hijrah ketakwaan, hijrah moralitas, hijrah karekater, agar keimanan semakin dalam, ketakwaan semakin meningkat, moral semakin kokoh, karakter samakin kuat. Agar bangsa ini menjadi cerdas, maka yang pertama diperlukan adalah memberikan pendidikan yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan, pendidikan yang menguatkan akhlak, moral dan karakter. Pendidikan yang manjadikan manusia Indonesia beriman dan bertakwa kepada Allah Yang Maha Esa, berakhlak mulia.

Veritra Sentosa International | Bisnis MLM Ustad Yusuf Mansyur | MLM Terbaru |Jika keimanan itu adalah pembenaran dalam hati, pengucapan dengan lidah dan pengamalan dengan anggota tubuh, maka pendidikan yang kita citakan adalah pendidikan yang memiliki tiga dimensi, yaitu dimensi spiritual atau ajaran, dimensi reflkeksi dan dimensi aksi.

Dimensi spiritual adalah ajaran dan ruh pendidikan bahwa manusia Indonesia yang cerdas adalah mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah dan berakhlak mulia, sementara dimensi refleksi adalah pemahaman dan pengertian, manusia Indonesia memahami cita luhur pendidikan tersebut, memahami keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia tersebut, dan dimensi ketiga adalah dimensi aksi, manusia Indonesia, malakukan, mengamalkan dan mewujudkan keimanan tersebut dalam realitas kehidupannya atau yang kita kenal dalam system pendidikan sebagai learning by doing, pendidikan dengan pengamalan dan penglaman.

Mari kita jadikan montum tahun baru Islam, tahun baru Hijriyah ini, satu Muharram 1435 Hijriah ini sebagai memontum mengevaluasi diri, momentum melakukan perubahan diri, reformasi diri dan karakter agar kita menjadi manusia Indonesia yang cerdas, berkarakter dan berakhlak mulia. Kita jadikan momentum ini untuk momentum meningkatkan keimanan yang dibarengi dengan pemahaman dan pengamalan dalam bentuk aksi. Wallahu A’lam.


Penulis adalah Ketua Komunitas Keluarga Bahagia (KKB)

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Maliharjo News. - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger