Surabaya - Setelah kelongsoran hebat di lereng utara Gunung Anjasmoro di wilayah Kabupaten Jombang pada akhir Januari lalu yang menyebabkan 14 orang tewas, kini di ketahui di 29 daerah Kabupaten/Kota atau lebih 76 persen dari wilayah Propinsi Jawa Timur, terdapat pergeseran tanah yang berpotensi menyebabkan terjadi kelongsoran. Warga masyarakat diminta untuk mewaspadai terhadap segala kemungkinan terjadi yang terburuk.
Seperti dikutip Harian Surya, Dewi J. Putriani, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Pemerintah Propinsi Jawa Timur mengungkapkan itu. Disebutkan, tanah bergerak di wilayah Jawa Timur dimaksud, didasarkan data dari hasil pemetaan yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Kecuali pemetaan itu, PVMBG juga mengungkap penyebabnya; ada batuan lapuk yang ada di perut bumi. Selain itu, juga karena 13 gunung berapi di Jawa Timur, tujuh diantaranya masih aktif.
Sedang tentang 29 Kabupaten/Kota yang memiliki kawasan pergeseran tanah adalah di Kabupaten Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Jombang dan Mojokerto. Tulungagung, Blitar, Kota dan Kabupaten Malang, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Kemudian empat Kabupaten di Pulau Madura adalah Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.
Menurut Dewi J. Putriani, terdapat dua karakteristik pergeseran tanah; menengah dan tinggi. Pergeseren menengah; berarti tanah dengan karakteristik ini, jika terjadi curah hujan di atas normal, berpotensi menyebabkan terjadinya longsor. Tanah dengan kategori pergeseran menengah, di daerah berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan yang rawan mengalami gangguan.
Sedang tanah karakteristik pergeseran tinggi, adalah tanah bergerak berpotensi longsor tidak hanya karena hujan, tetapi juga bisa karena sebab-sebab lain. Daerah rawan pergesaran tanah karakteristik tinggi diantaranya di Kabupaten Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Kediri, Tulungagung, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo dan Kabupaten Malang.
Pencegahan terjadinya longsor akibat pergeseran tanah ini, menurut Dewi J Putriani, diantaranya dengan penghijauan dan reboisasi---menanami lahan dengan pepohonan berkarakter perakaran keras. Namun, sebagian besar tanah dalam kategori ini, justru dimiliki warga dan didayagunakan untuk budidaya palawija serta tanaman semusim lainnya. Dinas ESDM, telah mengusulkan agar Pemerintah Propinsi Jawa Timur, mengambil alih tanah rawan longsor milik warga itu, untuk dikembangkan sebagai lahan lindung yang ditanami pepohonan dengan perakaran keras dan kuat.
Seperti dikutip Harian Surya, Dewi J. Putriani, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Pemerintah Propinsi Jawa Timur mengungkapkan itu. Disebutkan, tanah bergerak di wilayah Jawa Timur dimaksud, didasarkan data dari hasil pemetaan yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Kecuali pemetaan itu, PVMBG juga mengungkap penyebabnya; ada batuan lapuk yang ada di perut bumi. Selain itu, juga karena 13 gunung berapi di Jawa Timur, tujuh diantaranya masih aktif.
Sedang tentang 29 Kabupaten/Kota yang memiliki kawasan pergeseran tanah adalah di Kabupaten Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Jombang dan Mojokerto. Tulungagung, Blitar, Kota dan Kabupaten Malang, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Kemudian empat Kabupaten di Pulau Madura adalah Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.
Menurut Dewi J. Putriani, terdapat dua karakteristik pergeseran tanah; menengah dan tinggi. Pergeseren menengah; berarti tanah dengan karakteristik ini, jika terjadi curah hujan di atas normal, berpotensi menyebabkan terjadinya longsor. Tanah dengan kategori pergeseran menengah, di daerah berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan yang rawan mengalami gangguan.
Sedang tanah karakteristik pergeseran tinggi, adalah tanah bergerak berpotensi longsor tidak hanya karena hujan, tetapi juga bisa karena sebab-sebab lain. Daerah rawan pergesaran tanah karakteristik tinggi diantaranya di Kabupaten Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Kediri, Tulungagung, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo dan Kabupaten Malang.
Pencegahan terjadinya longsor akibat pergeseran tanah ini, menurut Dewi J Putriani, diantaranya dengan penghijauan dan reboisasi---menanami lahan dengan pepohonan berkarakter perakaran keras. Namun, sebagian besar tanah dalam kategori ini, justru dimiliki warga dan didayagunakan untuk budidaya palawija serta tanaman semusim lainnya. Dinas ESDM, telah mengusulkan agar Pemerintah Propinsi Jawa Timur, mengambil alih tanah rawan longsor milik warga itu, untuk dikembangkan sebagai lahan lindung yang ditanami pepohonan dengan perakaran keras dan kuat.

Tujuh Gunungb Api
Sementara Suara Islam Online juga berhasil menghimpun catatan tentang gunung berapi di wilayah Jawa Timur. Terutama tujuh gunung berapi aktif memberi pengaruh bahkan menjadi penyebab tanah bergeser. Yaitu: Gunung Raung dan Gunung Ijen di Kabupaten Banyuwangi, Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Gunung Lamongan di Kabupaten Probolinggo, Gunung Bromo di Kaldera Gunung Tengger di perbatasan Kabupaten Malang dengan Pasuruan dan Probolinggo, Gunung Penanggungan di Kabupaten Mojokerto, dan Gunung Kelud di perbatasan Kabupaten Kediri, Tulungagung dan Blitar.
Seperti diberitakan Suara Islam edisi Online sebelum ini, dari tujuh gunung berapi aktif empat diantaranya saat ini dengan status tengah meningkat, dari normal menjadi waspada (level II). Empat gunung itu; Gunung Kelud (1.731 meter dari muka laut) terakhir erupsi tahun 2007, Gunung Ijen (2.443 meter dari muka laut) terakhir erupsi tahun 2012. Gunung Raung (3.332 meter dari muka laut) dikhawatirkan erupsi lagi dalam tahun ini. Jika terjadi erupsi, Gunung Raung kemungkinan akan meletus hebat, karena sebagian besar lubang (mulut) kepundan tertutup material lava sisa erupsi tahun 2012.
Dua gunung lagi di wilayah Jawa Timur berstatus waspada adalah Gunung Bromo di Kaldera Gunung Tengger, tercatat erupsi beruntun di tahun 2000, 2001, 2004, 2010 dan 2011. Kemudian Gunung Semeru, di batas Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, merupakn gunung tertinggi di Jawa dengan puncak disebut Mahameru ketinggian 3.676 meter dari muka laut. Tercatat sejak tahun 1967 hingga tahun lalu, terus menerus erupsi, yang oleh para ahli volkanologi disebut dengan kategori ledakan abu, terjadi dengan interval setiap 10 – 30 menit. (SI Online)




Posting Komentar