Dua kubu Suriah adu mulut di hari pertama penyelenggaraan perundingan Jenewa II di kota Montreux, Swiss, Rabu 22 Januari 2014. Kedua pihak yang bertikai yaitu rezim Presiden Bashar al-Assad yang diwakili Menteri Luar Negeri, Walid Muallem, dan Kepala Dewan Koalisi Nasional, Ahmad Jarba, masing-masing memberikan argumennya.
Stasiun berita BBC, melansir pernyataan Muallem yang menyebut pihak oposisi sebagai pengkhianat. Belum lagi dia menyebut beberapa negara yang turut hadir dalam konferensi itu, turut bertanggung jawab atas tumpahnya darah di Suriah.
Saking kesalnya, Muallem lantas berbicara melewati batas waktu yang ditentukan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon yakni 10 menit. "Anda tinggal di New York, sementara saya tinggal di Suriah. Jadi saya memiliki hak untuk menjelaskan versi Suriah di sini. Khususnya setelah melalui penderitaan selama tiga tahun, ini hak saya," tegas Muallem.
Sementara Jarba pun tidak mau kalah. Dia menyebut konferensi itu merupakan awal bagi Assad untuk mundur dan pengadilan terhadap semua kejahatannya akan dimulai. "Bagi rakyat Suriah, saat ini penuh darah," ungkap Jarba.
Dia lantas menunjukkan beberapa foto penyiksaan dan eksekusi mati yang sistematis yang terjadi di penjara Suriah. Laporan mengenai foto itu dipublikasikan pada Selasa kemarin, tetapi dihapus oleh rezim Damaskus lantaran dianggap tidak kredibel.
Kekisruhan semakin menjadi, ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), John Kerry, mengecam pernyataan Muallem sebagai retorika yang menghasut. Dia bahkan menyebut tidak mungkin Assad dapat tetap meraih legitimasinya sebagai orang nomor satu di Suriah setelah melakukan pembantaian brutal terhadap rakyatnya sendiri.
Stasiun berita BBC, melansir pernyataan Muallem yang menyebut pihak oposisi sebagai pengkhianat. Belum lagi dia menyebut beberapa negara yang turut hadir dalam konferensi itu, turut bertanggung jawab atas tumpahnya darah di Suriah.
Saking kesalnya, Muallem lantas berbicara melewati batas waktu yang ditentukan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon yakni 10 menit. "Anda tinggal di New York, sementara saya tinggal di Suriah. Jadi saya memiliki hak untuk menjelaskan versi Suriah di sini. Khususnya setelah melalui penderitaan selama tiga tahun, ini hak saya," tegas Muallem.
Sementara Jarba pun tidak mau kalah. Dia menyebut konferensi itu merupakan awal bagi Assad untuk mundur dan pengadilan terhadap semua kejahatannya akan dimulai. "Bagi rakyat Suriah, saat ini penuh darah," ungkap Jarba.
Dia lantas menunjukkan beberapa foto penyiksaan dan eksekusi mati yang sistematis yang terjadi di penjara Suriah. Laporan mengenai foto itu dipublikasikan pada Selasa kemarin, tetapi dihapus oleh rezim Damaskus lantaran dianggap tidak kredibel.
Kekisruhan semakin menjadi, ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), John Kerry, mengecam pernyataan Muallem sebagai retorika yang menghasut. Dia bahkan menyebut tidak mungkin Assad dapat tetap meraih legitimasinya sebagai orang nomor satu di Suriah setelah melakukan pembantaian brutal terhadap rakyatnya sendiri.
Melihat peristiwa itu, Ban lantas meminta semua pihak untuk tenang dan bernegosiasi. "Semuanya ini sudah cukup. Telah tiba waktunya untuk bernegosiasi. Semua proses kerja keras akan dimulai pada Jumat mendatang. Kami memiliki sebuah jalan yang sulit di depan, tapi itu semua dapat dan harus dilewati," ungkap Ban.
Pada hari Jumat itu, dijadwalkan kedua pihak yang bertikai akan langsung bertemu di ruang yang sama. Utusan Suriah untuk PBB, Lakhdar Brahimi, menyebut dia akan berbicara kepada Pemerintah Suriah dan delegasi oposisi secara terpisah pada Kamis esok.
Sementara Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyesalkan Ban yang menarik undangannya untuk Iran. Dia kembali menyatakan bahwa Iran seharusnya dilibatkan dalam proses damai Suriah.
Dalam pertemuan pada Rabu kemarin, mengagendakan semua Menlu untuk berpidato menyampaikan pandangan mereka. (ren/VIVAnews )
Pada hari Jumat itu, dijadwalkan kedua pihak yang bertikai akan langsung bertemu di ruang yang sama. Utusan Suriah untuk PBB, Lakhdar Brahimi, menyebut dia akan berbicara kepada Pemerintah Suriah dan delegasi oposisi secara terpisah pada Kamis esok.
Sementara Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyesalkan Ban yang menarik undangannya untuk Iran. Dia kembali menyatakan bahwa Iran seharusnya dilibatkan dalam proses damai Suriah.
Dalam pertemuan pada Rabu kemarin, mengagendakan semua Menlu untuk berpidato menyampaikan pandangan mereka. (ren/VIVAnews )





Posting Komentar