BUKAN saya mengharapkan empati atau simpati untuk profesi Guru, terutama Guru Madrasah, swasta lagi, di daerah lagi… Tapi sumpah, mengajar anak usia SD butuh energy 10 kali lipat daripada mengajar mahasiswa.
Bagi saya, rekan-rekan Guru SD/MI itu sangat luar biasa. Mereka orang-orang yang ikhlas, super duper ikhlas dan sabar. Menghadapi tingkah polah anak kecil yang merepotkan, masih ditambahi omelan wali murid yang protes bla-bla-bla. Padahal ada yang dibayar cuma 50.000 per bulan. Untuk mengajar, mendidik, memberi bekal bagi masa depan anak-anak yang uang saku perharinya lebih besar dari gaji harian gurunya.
Mereka bekerja dua kali lipat. pagi meluangkan waktu untuk mendidik yang pastinya lebih karena didasari keikhlasan bukan materi yang cuma beberapa puluh ribu. Setelah pulang sekolah, baru mereka memikirkan perut untuk keluarganya dengan menyambi… berdagang, bertani, bahkan ada yang ngojek.
Maka apa yang salah jika usaha seorang guru misalnya bisa sukses lalu bisa beli kendaraan bagus, apa keikhlasan mengajar beliau bukan tauladan bagi anak didiknya?Apa keuletan, kemandirian, kesungguhan tekad berjualan telur hingga bisa beli kendaraan juga bukan suri tauladan bagi anak didiknya?
Pliss, Omar Bakrie boleh memberi tauladan kesederhanaan, tapi sederhana bukan berarti nrimo, bukan berarti miskin, bukan berarti tidak boleh bermimpi lalu mengejarnya.
Saya sendiri juga seorang Guru Madrasah Ibtidaiyah Swasta. Gaji bulanan nggak seberapa hanya setara dengan 30L bensin. Tunjangan Fungsional dari pemerintah saya tolak, bukan sombong, karena memang saya merasa ada yang lebih membutuhkan. Beberapa kali nama saya juga diajukan dalam daftar database yang katanya gampang jadi PNS, tapi juga saya tolak. Tes CPNS saya juga nggak pernah ikut … maaf sekali lagi masih banyak lebih membutuhkan. [roda2blog]
--------------------------------------------------------------------------------------
Solusi smart berinvestasi dan berbisnis bersama Ustd.Yusuf
Mansur


Posting Komentar