![]() |
| Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum (tengah) - inilah.com |
"Mengapa saya menulis pesan politik para sengkuni, karena dengan potongan kalimat sederhana itu mudah ditangkap, mudah dicerna," kata Anas dalam forum diskusi INILAH.COM Group dengan tajuk 'Telaah Komunikasi Politik Anas Urbaningrum' di kantor INILAH.COM, Minggu (10/11/2013).
Ia melanjutkan, penggunaan kata-kata berbasis budaya itu dapat juga menjadikan ilmu pengetahuan baru mengingat keberagaman budaya di Indonesia. Sekaligus, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru sangat penting untuk menjadi oli bagi perputaran pesan.
"Jadi komunikasi itu akan lebih mudah diterima kalau diberi konteks kultural, relevansi pesan komunikasi dan aliran pesan itu sampai ke audiens kalau diberi konteks kultural dan budaya," ujarnya.
Di samping itu, Anas mengaku menggunakan kata sengkuni karena wayang merupakan salah satu media yang pendukungnya besar. Dengan pendukung besar itu, Anas meyakini banyak masyarakat yang paham tentang wayang.
"Mudah dicerna, berbeda, wayang sebagai khasanah budaya. Alhamdulillah orang Aceh tau sengkuni, Papua tau, kawan saya dari Makassar tau sengkuni belajar, bahkan muncul buku sengkuni modar," tandasnya.
Sebelumnya, pada saat-saat terakhir Anas menjadi ketua umum partai Demokrat merasa dizolimi oleh para elit Demokrat. Dirinya merasa karir politiknya diberangus. Untuk mengungkapkan kekesalannya, Anas kerap kali menggunakan bahasa-bahasa dan sindiran halus, seperti sengkuni dan lain-lain.[ris/inilah]
.jpg)

Posting Komentar