Azaria Network
Aquamina :
Veritra Sentosa International | Bisnis MLM Ustad Yusuf Mansyur | MLM Terbaru |

Tampilkan postingan dengan label KRATON JOGJA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KRATON JOGJA. Tampilkan semua postingan

Ngunduh Mantu, Sultan HB X Kenakan Busana Adat Kudus

Sultan Hamengku Buwono X dan KPH Yudanegara dalam acara Ngunduh Mantu
pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro, Sabtu (26/10/2013).
KUDUS-Keluarga kraton Jogja mengenakan busana adat Kudus saat mengikuti acara Ngunduh Mantu Pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro.
Terlihat dalam foto profil blackberry messenger KPH Yudanegara, menantu Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Dalam foto itu KPH Yudanegara tampak foto bersama dengan Sri Sultan HB X mengenakan busana kebangsawanan Kota Jenang. Pakaian yang dikenakan berwarna biru tua berbahan beludru.
Sebelumnya, adik kandung KPH Notonegoro, Aditya Prabowo mengatakan pelaksanaan ngunduh mantu tidak disertai prosesi atau adat khusus.
“Acara sederhana dengan keluarga dan tamu, tidak ada yang khusus,” ujarnya, tiga hari lalu.
Ngunduh mantu dihelat keluarga Sigim Mahmud dan Raden Ayu Nusye Retnowati, orangtua KPH Notonegoro di Hotel Gryptha, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (26/10/2013).
Sebagai informasi, pakaian tradisional pengantin pria adat Kudus mengenakan busana hajj atau busana ala syeh dari bangsawan quraisy, sedangkan mempelai putri mengenakan model kebaya tanpa kerah dan biasanya mengenakan caping kalo.Harianjogja

Upacara Pamitan Sebagai Penutup ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA


Upacara Pamitan merupakan penutup dari serangkaian acara pernikahan secara keseluruhan. Pamitan dilaksanakan Rabu (23/10) setelah acara resepsi di Komplek Kepatihan. Tepat pukul 19.50, KPH Notonegoro didampingi GKR Hayu berangkat meninggalkan Bangsal Kasatriyan menuju ruang utama Gedhong Jene. Upacara Pamitan merupakan penutup dari serangkaian acara pernikahan secara keseluruhan. Pamitan dilaksanakan Rabu (23/10) setelah acara resepsi di Komplek Kepatihan.
Keberangkatan ke Gedhong Jene dipimpin oleh GBPH Cakraningrat SE diikuti KGPH Hadiwinoto sarimbit. Di belakang KPH Notonegoro dan GKR Hayu, nampak Dr GBPH Suryametaram dan Ir GBPH Suryaningrat berjalan beriringan diikuti orang tua KPH Notonegoro, Kolonel Kavaleri (Purn) Sigim Mahmud dan Raden Ayu Nusye Retnowati. Selain itu para kerabat Kraton dan kerabat KPH Notonegoro juga nampak mengikuti upacara Pamitan di Gedhong Jene. GKR Hayu yang mengenakan kebaya tangkeban dan KPH Notonegoro yang mengenakan baju atela putih beserta rombongan tiba disambut oleh Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas.
Di dalam Gedhong Jene, GKR Hayu dan KPH Notonegoro beserta orangtua dari pengantin pria duduk di kursi sebelah selatan menghadap utara, sedangkan KGPH Hadiwinoto dan GKR Pembayun beserta rombongan duduk di kursi sebelah utara menghadap ke selatan. Sedangkan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas duduk di tengah sebelah barat menghadap timur sebagai pemimpin upacara.
Dalam upacara tersebut, Sri Sultan HB X menyampaikan beberapa wejangan dan nasihat kepada kedua mempelai pengantin sebagai bekal mereka untuk mengarungi kehidupan rumah tangga. Intinya bahwa dalam berumah tangga harus mengedepankan sikap saling menghormati, meng hargai, dan mengisi. Sultan juga banyak berpesan tentang pentingnya komunikasi dan kesetaraan gender dalam kehidupan pernikahan.
“Kalau orang tua mengatakan itu, kita harus dapat membangun bale somah, yaitu bagaimana rumah yg kita tempati, keluarga yang kita bangun dengan seluruh anak cucu dan saudara-saudara akan penuh kedamaian, penuh rasa nyaman. Saling menghargai, saling menghormati. Keikhlasan itu sangat penting, dalam sebuah pernikahan tidak ada yang menang dan kalah. ” pesan Sultan. “Menikah itu untuk mencapai kebahagiaan. Berbicaralah terus terang, apa adanya. Tidak perlu harus marah, susunlah kata-kata yang baik, arif, dan bijak. Hilangkan rasa ingin menang sendiri yang dapat menyinggung perasaan suami atau istri. Baik, suami maupun istri, tidak ada yang harus direndahkan. Semua setara dalam upaya membangun rumah tangga.” lanjut Sultan lagi. Sultan juga menyampaikan bahwa kedua mempelai harus mempersatukan cara berfikir dan melangkah karena keduanya sudah tidak lagi hidup sendiri. Mereka harus empan papan adu rasa (tahu situasi dan kondisi). “Bangunlah komunikasi yang intens dan terbuka. Itu adalah sesuatu yang sangat penting.” ucap Sultan.
KPH Notonegoro pun menjawab pernyataan Sri Sultan HB X bahwa dirinya beserta istri dan keluarga besar memohon maaf jika dalam tiga hari terakhir terdapat kesalahan selama tinggal di Kraton. “Kami berdua ingin minta restu karena kami berdua akan pindah ke New York “, tambahnya.
Setelah itu acara kemudian ditutup dengan sungkeman. Seusai Pamitan, GKR Hayu dan KPH Notonegoro beserta KGPH Hadiwinoto dan GKR Pembayun dengan diikuti rombongan kembali ke Gadri Bangsal Kasatriyan dan istirahat sejenak di Gedhong Srikaton untuk menikmati hidangan malam.
Di sela-sela akhir acara, KRT Yudahadiningrat, selaku panitia pernikahan berpesan kepada kedua mempelai agar terus mengembangkan diri dan mengembangkan Kraton melalui kemampuan IT yang dimilikinya. Tak berapa lama, Sultan lalu menghampiri awak media untuk menyampaikan beberapa pesan, “Saya menyampaikan rasa terima kasih kepada teman-teman semua. Baik media elektronik maupun surat kabar yang selama ini beberapa hari telah memberitakan jalannya pernikahan. Saya atas nama panitia mohon maaf sebesar-besarnya apabila dalam pelayanan di dalam membangun komunikasi dengan teman-teman media ada miskomunikasi.”
Berakhirnya upacara pamitan disertai dengan berangkatnya kedua mempelai beserta orangtua mempelai pria kembali ke rumah. Mereka keluar melalui Regol Magangan. Ir GBPH Suryadiningrat beserta pasangan dan Dr GBPH Suryametaram beserta pasangan pun turut mengantarkan kepergian GKR Hayu dan KPH Notonegoro sebagai pengantin yang telah siap mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga.(kraton wedding)






Iringan Kirab 'Pahargyan Ageng' Mampu Memukau Masyarakat



JOGJA-Kirab Pahargyan Ageng GKR Hayu dan KPH Notonegoro sangat meriahdan semarak namun tetap tertib. Antusias warga untuk menyaksikan kirab begitu luar biasa, karena ini merupakan peristiwa yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Yogya. Mereka berbondong-bondong datang dari berbagai daerah hanya untuk menyaksikan pernikahan agung ini. 

Sejatinya, Kirab dilakukan dengan rute memutari Kraton. Namun, untuk pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro, Rabu (23/10/2013)pukul 08.00 Wib, dilakukan dengan rute dari Kraton menuju Gedung Kepatihan.
Prosesi ini menggunakan 12 kereta dan berjalan dengan lancar. Tepat pukul 09.00 WIB rombongan pengantin dan 12 kereta tiba di titik nol kilometer.

Iringan Kirab pagi ini cukup memukau masyarakat yang menyaksikan langsung di lokasi maupun dari siaran langsung tv lokal dan nasional. Penampilan iringan prajurit dan kereta kraton dalam kirab merupakan prosesi yang tidak setiap saat dapat dinikmati.

Sepanjang rute kirab dari kraton Yogyakarta hingga kompleks Kepatihan, masyarakat nampak atusias menunggu iringan kirab lewat. Panas matahari yang mulai menyengat tidak mengurangi antusias warga melihat iringan kirab. Bahkan masyarakat luar Yogyakarta dan wisatawan asing yang berlibur menikmati peristiwa budaya ini dengan mengabadikan melalui kamera foto atau handycam. 

"Prosesi Kirab pernikahan ini terlihat tertib, aman, dan baik-baik saja. Saya datang ke sini sendirian dari jam 07.30. sudah 1 jam berdiri di depan untuk bisa bersalaman dengan pengantin. Tetapi saya tidak bisa melihat jelas di depan karena banyaknya masyarakat yang desak-desakan," Ungkap Emil(78),Warga Gedong Kuning Yogyakarta yang rela berjalan kaki dari Pasar Beringharjo menuju Titik Nol Kilometer.

Kirab ini juga merupakan simbolisasi manunggaling kawula gusti, yang artinya menciptakan kesejahteraan bagi umat manusia. Dimana ketika pimpinan bersatu dengan rakyat, pasti akan ada kemakmuran dan ketenteraman.

Kedua mempelai GKR Hayu dan KPH Notonegoro dalam kirab pernikahan agung pagi ini menggunakan kereta Kanjeng Kyai Jongwiyat yang akan ditarik 4 kuda. Pemilihan kereta ini sendiri terkait sejarah kereta tersebut selama perjalanan membawa kirab pernikahan kraton dan upacara sakral lainnya.

Kereta Kyai Jongwiyat merupakan kereta yang sering digunakan oleh putri-putri Sultan HB X saat pernikahan mereka. Bahkan, sebelum dinobatkan menjadi raja, Sri Sultan HB X selalu menggunakan kereta Kanjeng Kyai Jongwiyat.

Kereta Kyai Jongwiyat buatan Den Haag, Belanda dibeli pada era Hamengku Buwono VII, tepatnya sekitar tahun 1880.

Dalam acara kirab ini juga disediakan jajanan pasar, menu angkringan, dan buah-buahan secara gratis sebagai bentuk ucapan terimakasih dan sebagai bentuk kebahagiaan bersama warga Yogya. 

Penjagaan sangat ketat, hal ini bertujuan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan acara kirab. Sukirno, anggota TNI yang ikut menjaga keamanan mengaku sangat bangga bisa menjadi bagian dari anggota keamanan dalam acara Pahargyan Ageng ini. 













Akad Nikah KPH Notonegoro dengan GKR Hayu di Mesjid Panepen, Kraton Yogyakarta



Selasa (22/10) pukul 07.00, Akad Nikah KPH Notonegoro dengan GKR Hayu dilaksanakan di Mesjid Panepen, Kraton Yogyakarta. Akad Nikah dihadiri oleh Sultan Hamengku Buwono X, KPH Notonegoro, beserta kerabat laki-laki.
Sebelum Akad Nikah, KPH Notonegoro yang diapit oleh Ir GBPH Suryadiningrat dan Dr GBPH Suryametaram, berangkat dari Bangsal Kasatriyan menuju Bangsal Trajumas bersama rombongan yang terdiri dari KGPH Hadiwinoto, GBPH Pakuningrat, GBPH Hadinegoro, GBPH Suryanegaran, GBPH Hadisurya, GBPH Candradiningrat, KPH Wironegoro, KPH Purbodiningrat, dan KPH Yudhanegara. Rombongan tersebut juga diikuti oleh para Pendherek, berpakaian atela putih, yang berjumlah enam orang diantaranya KRT Pujaningrat, dan KRT Yudahadiningrat serta orangtua dari KPH Notonegoro.
Sesampainya di Bangsal Trajumas, rombongan mempelai pria telah ditunggu oleh KRT Drs H Ahmad Kamaludiningrat, KRP Dipodiningrat, dua orang perwakilan KUA, dan para Abdi Dalem Punakawan Kaji. Keseluruhan rombongan berkumpul untuk menunggu GBPH H Prabukusumo SPsi sebagai utusan dalem yang akan menjemput dan menyampaikan bahwa Sultan Hamengku Buwono X telah hadir di Masjid Panepen serta siap untuk dilakukannya upacara akad nikah.
Sekitar pukul 07.10, Sultan Hamengku Buwono X lalu memerintahkan GBPH H Prabukusumo SPsi dan GBPH H Cakraningrat SE agar memanggil dua rombongan tadi. Hal ini menjadi tanda bahwa upacara Akad Nikah dapat dimulai. GBPH H Cakraningrat SE lalu beranjak menuju Teras Bangsal Sri Manganti untuk menjemput KRP Dipodiningrat beserta rombongannya menuju Mesjid Panepen. Sedangkan, GBPH Prabukusumo SPsi  menuju ke Kagungan Dalem Bangsal Trajumas untuk menjemput GBPH Hadiwinoto dan KPH Notonegoro beserta rombongan menuju Mesjid Panepen. Terlihat di barisan terdepan, KRP Dipodiningrat membawakan mas kawin yang berupa Al Quran dan seperangkat alat sholat, sembari beranjak bersama rombongan menuju Masjid Panepen yang disusul GBPH H Prabukusumo SPsi dan rombongan KPH Notonegoro.
Sesampainya di dalam Mesjid Panepen, GBPH Prabukusumo SPsi duduk di belakang  Sultan HB X berdampingan dengan GBPH Haji Joyokusumo dan GBPH Cakraningrat. Sedangkan KGPH Hadiwinoto duduk di sebelah selatan menghadap utara bersama dengan kerabat-kerabat Sultan yang lain. KPH Notonegoro lalu duduk menghadap Sultan HB X. Perangkat Mas Kawin dan para rombongan yang lain duduk di belakang KPH Notonegoro.
Sekitar pukul 07.15, Sultan HB X memulai Ijab Kabul. Ijab dimulai dengan khotbah nikah yang disampaikan oleh KRP Dipodiningrat.  Setelah khotbah nikah selesai, Sultan Hamengku Buwono X menjabat tangan KPH Notonegoro dalam Ijab Kabul. Di sini, Sultan HB X menikahkan sendiri putrinya.
KPH Notonegoro kemudian mengucapkan ikrar Ijab Kabul dengan tegas menggunakan bahasa Jawa Bagongan, “Kula Abdi Dalem KPH Notonegoro dinten menika ngestoaken dhawuh timbalan Dalem Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem  Hingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Hingkang Jumeneng Kaping Sedasa, kadhaupaken kalyan Putra Dalem Putri GKR Hayu, kanthi mas kawin Kitab Suci Al Qur’an sarta seperangkat alat sholat, Salajengipun nyadhong berkah pangestu dalem, Sembah nuwun. (Saya, KPH Notonegoro, menjalankan titah Yang Mulia Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X, untuk dinikahkan dengan putri Yang Mulia, GKR Hayu, dengan mas kawin Kitab Suci Al Qur’an beserta seperangkat alat sholat. Dan selanjutnya mohon doa restu Yang Mulia, terima kasih.)
Setelah itu acara kemudian disambung dengan doa nikah yang dipimpin oleh Penghageng Kawedanan Pengulon Kanjeng Kamaludiningrat.
Dengan diikrarkannya Ijab Kabul ini, KPH Notonegoro akhirnya telah resmi menjadi menantu Sultan HB X. Akad Nikah selesai sekitar pukul 07.40. KPH Notonegoro lalu menghaturkan sungkem dengan terlebih dahulu melepas keris di belakang pinggangnya. Setelah sungkem, Sultan HB X memerintahkan KGPH Hadiwinoto untuk mengantarkan KPH Notonegoro kembali ke Bangsal Kasatriyan. Di Bangsal Kasatriyan, KPH Notonegoro berganti busana dan segera bersiap-siap untuk upacara Panggih.(kratonwedding)










Seperi Inilah UNDANGAN Spesial ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA

Gairah GKR Hayu Akan Dunia IT ditunjukkan pada Undangan Unik Yang didesainnya SENDIRI. Undangan Pernikahan GKR Hayu Dan KPH Notonegoro berbeda dengan Undangan resepsi Pernikahan Kraton sebelumnya, Hal ini terlihat dari sentuhan IT Yang terdapat di Undangan ini.

Undangan berbentuk sebuah kotak Yang bila dibuka, Akan Muncul Sketsa sepasang pengantin Jawa dengan latar belakang Bangsal pelaminan adat Jawa . Kotak ini tidak hanya Berisi lembaran Undangan Saja, terdapat JUGA Online RSVP Card, Penggesek kartu, pin , Kartu konsumsi driver, Dan Kartu PARKIR. Lembar Undangan pun dibuat Dalam Tiga bahasa, yakni bahasa Jawa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris .

Online RSVP kartu Berisi Delapan digit Nomor Kode RSVP Yang dapat di- entri di situs kraton wedding . Para Tamu harus memasukkan Kode ini untuk mengkonfirmasi kedatangan mereka. Hal ini diharapkan dapat memudahkan para Tamu untuk melakukan Konfirmasi kehadiran.

Di Dalam, box JUGA terdapat Swipe Card . Swipe Card adalah sebuah Kartu Yang fungsinya untuk menggantikan BUKU TAMU. Kartu ini Akan digesekkan di Alat Penerimaan Tamu SAAT Tamu Datang di Acara Pernikahan. setelah tamu menggesekkan Kartu ini, Alat Akan mengeluarkan selembar Kertas. Kertas ini Akan disimpan Oleh Tamu untuk selanjutnya digunakan untuk mengambil souvenir. Selain lebih Praktis, SISTEM seperti ini JUGA lebih efektif untuk menjaga keakuratan Dan kebenaran Database di BUKU TAMU.

Selain ITU, terdapat JUGA pin Yang harus dikenakan Oleh para Tamu ketika menghadiri Acara. Pin ini merupakan Tanda bahwa mereka adalah Tamu Dan sekaligus sebagai bentuk penghargaan atas kedatanganya di Acara Pernikahan .

GKR Hayu merupakan putri Kraton Yang Sangat mencintai Dunia IT. Tidak hanya berusaha memaksimalkan kemajuan Teknologi, GKR Hayu JUGA mendesain sendiri Kertas undangannya. Sentuhan untuk bersantai di Kraton Tak Lupa ditambahkan, bingkai Undangan diambil Langsung Dari naskah kuno Kraton Yogyakarta. Hal ini merupakan salah Satu ide GKR Hayu untuk mensinergikan kemajuan Teknologi dengan Kebudayaan.

ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA ; Calon Ipar Menghias Kamar Notonegoro

KPH Notonegoro (tengah). (JIBI/Harian Jogja/Kurniyanto)

JOGJA–Kamar tempat KPH Notonegoro nyantri selama sehari sebelum ijab qobul dihias oleh calon kakak ipar, GKR Condrokirono dan GKR Maduretno.
Keduanya merupakan putri kedua dan ketiga Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas yang mendapat tugas untuk memimpin rangkaian prosesi acara di Kagungan Dalem Gedhong Srikaton dan Kagungan Dalem Gedhong Purworukmi di kompeks Kasatriyan.
“Sama seperti di Sekar kedhaton, di Kasatriyan juga ada acara hias kamar calon pengantin yang dilakukan para putri, dua kamar masing-masing dihias Condrokirono dan Maduretno bersama para utusan dalem,” kata GKR Pembayun.
Prosesi majang atau merias kamar calon pengantin pria dipimpin oleh Condrokirono yang dibantu GBRA Murdokusumo, GBRA Darmokusumo dan BRA Padmokusumo.Sedangkan kamar tengah di Dalem Purworukmi dihias oleh Maduretno dibantu GBRA Riyokusumo, BRA Puruboyo, BRA Hadikusumo dan BRA Hadiwinoto.Kamar itu akan dipergunakan Notonegoro beristirahat setelah siraman hingga menjelang ijab qobul.
Adapun, sesaat setelah siraman, putra ketiga Kolonel Kavaleri (Purn) Sigi Mahmud dan Raden Ayu Nusye Retnowati itu berganti busana menggunakan kain jarik motif Sidoluhur dan selimut kain Sidoasih dengan makna yang bersangkutan mulia berbudi luhur dan penuh cinta kasih.(Harianjogja)

ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA; Motif Sidomukti - Sidoluhur Pengantar Berkah

Gedong Pompa tempat dimana KPH Notonegoro akan menjalani prosesi Siraman di tempat tersebut di komplek Bangsal Kasatriyan, Kraton Ngayogyakarta, Minggu (20/10/2013).
JOGJA--.Dua motif batik digunakan pada kain prosesi siraman GKR hayu.Dua motif itu adalah Sidomukti dan Sidoluhur.
Sejarahwan dari UGM Djoko Suryo mengatakan, kedua motif itu memiliki makna baik, penuh berkah dan biasa digunakan untuk busana setelah siraman. “Sidomukti berarti doa untuk selalu berkecukupan atau makmur dan sidoluhur memiliki makna supaya yang bersangkutan mulia dan berbudi luhur,” ujarnya, Senin (21/10/2013).
Upacara siraman GKR Hayu berlangsung mulai pukul 10.55 WIB diawali doa oleh Nyai Kanjeng Raden Penghulu Dipodiningrat dilanjutkan siraman tujuh sesepuh termasuk GKR Hemas, GBRA Murdokusumo, BRA Purboyo dan BRA Mooryati Soedibyo.
Selesai prosesi siraman, GKR Hayu selanjutnya melakukan ritual kerik atau memotong rambut pada dahi oleh perias Tienuk Riefki, untuk mengawali tata rias paes ageng. Setelah prosesi di Sekar kedhaton rampung, GKR Hemas dan rombongannya berjalan menuju Dalem Bangsal Kasatriyan untuk melakukan siraman pihak Notonegoro.(harianjogja)

ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA ; 200 Kg Menu Olahan Kambing Panggang Siap Dihidangkan

GKR Hayu dan KPH Notonegoro
JOGJA–Menjamu tamu pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro,berbagai menu tradisional dan internasional dengan rasa Jawa dihidangkan.Salah satunya menu andalan adalah Kambing panggang,masakan kegemaran Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR hemas.
Menurut Koordinator, Jamuan Hidangan Dhaup Ageng Sumartoyo kebutuhan daging kambing setidaknya sebanyak 200 kilogram. “Perhitungannya, satu orang makan 100 gram daging sementara jumlah tamu mencapai 2.000-an,” ujar General Manager Bale Raos Kraton Jogja itu di Bangsal Kencana, Kraton, Sabtu (19/10/2013).
Menu kambing panggang itu menurut dia bakal dihidangkan pada saat upacara panggih dan resepsi di Bangsal Kepatihan. Kambing panggang itu dihidangkan dengan kare sayuran yang merupakan kombinasi dari sayuran kembang kol dan wortel.“Sultan remen (suka) dengan masakan kambing. Ia masih kuat. Tidak takut kolesterol,” ujarnya.
Tidak hanya Sultan yang menyukai menu masakan kambing. GKR Hemas, katanya, juga sangat doyan dengan masakan apa saja yang diolah dari daging kambing. Karena itu, menu kambing itu selalu ada di meja menjamu tamu kerajaan.
Sumartoyo mengatakan, menu lain yang dipesan oleh Hemas adalah Gudeng Manggar. Gudeg ini berbeda dengan gudeg biasanya yang terbuat dari nangka muda, melainkan dari bunga kelapa. Stoknya menurut dia, terbatas. Hanya masyarakat di daerah Srandakan, Bantul, yang biasanya membuat.
“Gudeg manggar ini paling disuka saat pernikahan GKR Bendara. Mungkin karena sudah banyak yang pesan, maka menu ini dipesan kembali,” ungkapnya.(Harianjogja)

Undangan Pernikahan Putri Sultan Mencapai 1500 Orang

Putri keempat Raja Keraton Ngayogyakarta Sri Sultan HB X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu (kiri) didampingi calon suami, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, saat jumpa pers di Keraton Yogyakarta, Jumat (11/10).
Putri keempat Raja Keraton Ngayogyakarta Sri Sultan HB X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu (kiri) didampingi calon suami, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, saat jumpa pers di Keraton Yogyakarta, Jumat (11/10).

YOGYAKARTA -- Permaisuri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Hemas, mengatakan tamu undangan untuk pernikahan putrinya yang keempat jauh dari perkiraan.

''Karena ini merupakan pernikahan terakhir anak saya, jadi banyak yang minta diundang,''kata dia saat jumpa pers persiapan pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro, di Keraton Yogyakarta, Jumat (18/10).

Untuk tamu undangan pada acara panggih di Bangsal Kencana Keraton, Selasa (22/10), katanya, diperkirakan sekitar 750 orang. Namun karena banyak yang minta diundang akhirnya tamu undangan mencapai 1.500 orang.

Sementara itu, untuk resepsi pernikahan di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Rabu (23/10), undangannya sekitar 2.000 orang. Presiden SBY bersama para menteri serta duta besar dari berbagai negara rencananya akan hadir dalam upacara panggih di Keraton.

Selanjutnya mengenai kesiapan pelaksanaan Royal Wedding (Dhaup Ageng) putri keempat Raja Kraton Yogyakarta ini sudah mencapai 80 persen. ''Saya berharap dalam waktu tinggal dua hari lagi, yang 20 persen sudah bisa siap,'' tutur GKR Hemas.

Dia mengakui pernikahan GKR Hayu ini lebih meriah dibandingkan dengan putri-putrinya yang lain, karena merupakan pernikahan yang terakhir. ''Dengan Dhaup Ageng ini kami ingin mengajak masyarakat untuk nguri-nguri (melestarikan) kebudayaan. Di samping itu kami ingin menunjukkan eksistensi keraton dalam mengembangkan kebudayaan yang ada di DIY,''jelas dia.

Di tempat terpisah, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan untuk pernikahan putri keempatnya semuanya sudah disiapkan oleh panitia. ''Saya kira persiapannya sudah selesai, besok (Sabtu, 19 Oktober) tinggal gladi bersih saja,''ujarnya.

Sultan mengatakan ini merupakan kewajiban yang terakhir dalam menikahkan anaknya. ''Harapannya anak berbahagia setelah menikah. Setelah menikah tanggung jawab di keraton ada,  kalau punya peluang. Meskipun dia jauh dari keraton tidak masalah,'' katanya.

Rencananya setelah menikah GKR Hayu akan melanjutkan S2 di New York, karena suaminya bekerja di Bureau of Management, UNDP, New York, Amerika Serikat.ROL

Idul Adha, Raja Kraton Yogyakarta Berikan Sapi dan Tujuh Gunungan

Ilustrasi Gunungan Grebeg Iedul Adha
YOGYAKARTA - Pada Hari Raya Idul Adha tahun ini, Raja Kraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X  menyerahkan seekor sapi jenis metal seberat 20 kilogram untuk abdi dalem kraton dan tujuh gunungan untuk masyarakat, Selasa (15/10).

Sapi diserahkan secara simbolis utusan dari Kraton Yogyakarta yakni abdi dalem Mas Wedono Ngabdul Ridwan  ditemani para abdi dalem Koncohaji dan Koncosuronoto  kepada Carik Reh Kawedanan Pengulon Mas Lurah Ngabdul Busaeri di kantor Kawedanan Pegulon Komplek Masjid Gede Kraton Yogyakarta.

Sementara itu gunungan diserahkan ke Masjid Gede Kraton (Kauman) sebanyak lima buah, dan masing-masing sebuah dibawa ke Masjid Gede Puro Pakualaman dan ke Kepatihan. Gunungan yang dibawa ke Kantor Gubernur DIY Kepatihan Yogyakarta  dikawal oleh dua ekor gajah dan prajurit Bugis.

Sesampainya di depan halaman Bangsal Wiyoto Projo  Kepatihan, gunungan yang merupakan sedekah raja kepada rakyatnya sebagai simbol kesejahteraan diserahkan oleh  utusan dalem Raja Kraton Yogyakarta
KRT Rinto Isworo kepada Sekretaris Daerah (Sekda) DIY yang diwakili oleh Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Sosial Sulistyo.

Pada saat menerima gunungan yang berupa hasil bumi (sayuran dan buah-buahan), telur dan lain-lain, Sekda DIY mengatakan terima kasih kepada Sultan Hamengku Buwono X atas pemberian gunungan. ''Semoga Sultan bersama permaisuri, putra, kerabat kraton, sentana dalem, praja dalem diberi kesehatan, kesejahteraan panjang usia dan dijauhkan dari perbuatan jahat,' 'tuturnya.

Setelah gunungan didoakan, Sulistyo yang mewakili Sekda DIY bersama pimpinan SKPD (Satuan kerja perangkat daerah) mengambil beberapa hasil bumi. Selanjutnya gunungan dibawa ke depan Masjid Sulthoni untuk diperebutkan masyarakat yang hadir di Kepatihan. Dalam waktu tidak sampai lima menit gunungan habis.ROL 



Pernikahan Keraton Yogyakarta Disiarkan ke Seluruh Dunia


YOGYAKARTA -- Prosesi pernikahan Gusti Raden Ayu Nurabra Juwita dengan Angger Wibowo akan disiarkan secara streaming. Hal ini dimaksudkan agar prosesi bisa dilihat dari seluruh dunia. 

Demikian dikatakan Achmad Sugiarto, Executive General Manager Divisi Solution Convergence Telkom yang didampingi Firdaus Ruswandi, Manajer Telkom Wilayah Yogyakarta kepada wartawan di sela-sela workshop pembuatan film 10 detik di Yogyakarta, Jumat (11/10). 

Menurut rencana siaran langsung tersebut pada hari Rabu-Kamis (23-24/10).

"Kita diminat Ngarso Dalem setelah berhasil menyiarkan KTT APEC di Bali," kata Achmad Sugiarto.  

Saat ini PT Telkom secara infrastruktur sudah siap untuk menyiarkan prosesi pernikahan. 

"Kita tinggal mendapat izin dari EO pernikahan dan tinggal menyambungkan hasil shotingan EO," katanya.

Selain gambar dari EO pernikahan kraton, kata Achmad Sugiarto, Telkom juga akan memasang kamera sendiri. "Ini agar kita bisa mengambil angle sendiri," katanya. 

Sebelum pernikahan, putri ke empat Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dan calon suaminya mendapat nama dan gelar dari Raja Kraton Yogyakarta. 

GRAJ Nurabra Juwita diwisuda menjadi GKR Hayu dan calon suaminya Angger Wibowo mendapatkan gelar kekacingan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro. 



*REPUBLIKA.CO.ID

ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA ; Ada Angkringan Gratis di Malioboro

Putri Sultan HB X, GKR Hayu bersama calon suaminya, KPH Notonegoro
Pernikahan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu dengan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro dikonsep menjadi sebuah pesta rakyat. Bagaimana Kraton merencanakannya?
GKR Hemas, ibu GKR Hayu mengatakan, persiapan pernikahan sudah mencapai 85%. Kali ini persiapan yang dilakukan tak sesederhana seperti pada pernikahan GKR Bendara, putri bungsunya pada Oktober 2011 silam.
Arak-arakan kereta dari Pagelaran menuju tempat resepsi di Bangsal Kepatihan merupakan hal serius yang harus dipersiapkan dengan matang. Acara resepsi itu sedianya akan dilakukan pada 23 Oktober, sehari setelah ijab pernikahan. “Kirab akan lebih besar dibandingkan sebelumnya,” kata Hemas di kompleks Kantor Gubernur, Kepatihan, Senin (7/10/2013).
Sebagaimana diketahui, dalam pernikahan putri keempatnya tersebut, 12 kereta bakal dikeluarkan dari Museum Kereta Kraton. Di antaranya adalah Kereta Kiai Jongwiyat yang akan dinaiki pasangan temanten dan kereta Kiai Wimono Putro, kereta untuk raja dan permaisurinya.
Saat acara arak-arakan itulah, menurut Hemas, rakyat yang turut serta menyaksikannya dapat ikut turut berpesta. Berbagai makanan dari angkringan bakal disiapkan di sepanjang jalan yang dilewati arak-arakan kereta terutama di Malioboro. Arak-arakan itu menuju kepatihan dengan melawan arah Jalan Malioboro pukul 08.00 WIB.
Semua makanan itu tak hanya disiapkan dari Kraton saja, tapi sumbangan makanan justru mengalir dari berbagai pemangku kepentingan di Malioboro.“Ada bantuan dari pedagang di sepanjang Malioboro, pengelola parkir dan pedagang di pasar. Bahkan masyarakat dari kabupaten juga ada,” ujar Hemas.
Hanya sampai sekarang, ia belum dapat menghitung berapa sumbangan yang masuk. Alasannya, semakin hari, semakin banyak masyarakat yang ingin terlibat memberikan makanan untuk pesta rakyat tersebut. “Sehingga belum bisa diprediksi,” ujarnya.
Hemas berharap, masyarakat yang ikut menyaksikan arak- arakan dapat menjaga ketertiban. Rencananya, di sepanjang jalan yang dilewati kereta akan dipasang pagar besi. Agar warga tidak menghalangi rentetan panjang arak-arakan tersebut.(harianjogja)

Ratusan Abdi Dalem Kota Yogya Syawalan di Ndalem Wironegaran

Abdi dalem mengikuti acara syawalan. (Foto: Deny H)


YOGYA Ratusan abdi dalem dan calon abdi dalem yang tergabung dalam Paguyuban Abdi Dalem Kasultanan Ngayogyakarta Reh Kota Yogyakarta hari ini mengikuti syawalan bersama di Ndalem Wironegaran, Jalan Suryomentaraman Kulon,
Panembahan. Para abdi dalem melakukan syawalan dengan tuan rumah GKR Pembayun dan suaminya KPH Wironegoro.

"Ini adalah silaturahmi rutin yang diselenggarakan untuk kesejahteraan bersama," ujar Ketua Panitia KRT Adi Heru Husodo, Sabtu (31/08/2013).

Pengurus Paguyuban KRT Gondo Hadiningrat menyampaikan, para abdi dalem terdiri dari Abdi Dalem Keprajan (berpangkat/gelar) dan dan Abdi Dalem Punokawan (abdi). Semuanya diangkat memiliki tata cara masing-masing, namun bila memakai pakaian dinas harian, semuanya sama,  memakai peranakan jangkep, berwarna biru tua. Cara memakainya seperti memakai kaos," tuturnya.

Begitu pula menurutnya dalam hal bahasa. Para abdi dalem memakai Bahasa Bagongan, bahasa yang sama yang digunakan abdi dalem tertinggi hingga terbawah. "Di sini abdi dalem direngkuh menjadi saudara, semuanya sama, kecuali berbicara dengan Ngarsa Dalem, yakni dengan bahasa krama inggil. Ini yang membedakan dengan kerajaan lain," ujarnya. 

Acara syawalan disemarakkan dengan lantunan gending-gending Jawa yang dimainkan para pengrawit. Dalam momen ini dilantunkan juga Gending Yogyakarta Istimewa, sebuah gending yang diisi dengan pembacaan amanat Sri Sultan HB IX.

KRjogja.com

Mantu Terakhir, Sultan Kirab Gunakan Kereta

Kirab kereta kuda milik Keraton saat diujicoba, Jumat (23/8/2013).
Pernikahan Gusti Kanjeng Ratu Hayu, puteri keempat Sri Sultan Hamengku Buwono X bakal lebih meriah. Pasalnya saat acara di Kepatihan, iring-iringan kereta akan lebih banyak, termasuk kereta untuk Sultan.
Tiga kereta dikeluarkan dari Museum Kereta Kraton di Jalan Rotowijayan, Jumat (23/8/2013). Tiga kereta yang biasa di dalam museum itu diparkir di halaman museum. Nama- nama kereta itu adalah kereta Kyai Harsunobo, Kyai Wimono Putro dan Kyai Jatayu. Sesaji berupa pisang raja, sirih dan uang ditaruh di dalam kursi kereta.
Untuk menarik tiga kereta itu, Kraton harus meminjam kuda dari Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) DIY, dan juga andong yang biasa mangkal di Malioboro.
Pasalnya, kuda yang dimiliki Kraton tak mencukupi untuk menarik seluruh rangkaian kereta kuda tersebut. Kyai Wimono Putro misalnya. Kereta yang diperuntukkan untuk Putra Mahkota Kraton itu ditarik oleh delapan kuda atau empat pasang kuda. Adapun, kereta Kyai Harsunobo dan Kyai Jatayu masing- masing ditarik oleh enam dan empat kuda.
Tiga kereta itu kemudian keluar satu per satu dari kompleks museum setelah selesai dirangkai dengan kuda. Kereta- kereta itu kemudian dipersiapkan di Keben, kompleks Kraton, lalu berjalan sesuai dengan rute acara resepsi pernikahan GKR Hayu.
Nantinya rute yang akan dilewati dari Pagelaran Kraton melawan arus menuju Bangsal Kepatihan, tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan pada 22 Oktober mendatang. Beberapa warga nampak memadati rute jalan yang sengaja ditutup untuk keperluan persiapan iring-iringan kereta tersebut.
Adalah Kereta Kyai Wimono Putro yang terakhir keluar dari museum. Tak cukup singkat untuk merangkai kereta dengan kuda terbanyak ini. Saat dipersiapkan di halaman museum, panjang kereta dengan rangkaian kuda itu terlihat dari pintu masuk depan museum sampai gerbang museum yang berjarak sekitar 10 meter. Kereta ini terakhir digunakan saat Sri Sultan Hamengku Buwono X pertama kali bertakhta.
Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat, adik Sultan yang menjadi panitia pernikahan GKR Hayu mengatakan, dari tiga kereta itu satu di antaranya akan dipilih oleh Sultan untuk digunakan dalam acara resepsi bersama permaisuri GKR Hemas.
“Sri Sultan tinggal memilih yang ditarik delapan, tarik enam atau tarik empat,” katanya di sela- sela acara.
Yudha menjelaskan, uji coba itu bermaksud untuk memperhitungkan kebutuhan kuda, space jalan yang digunakan untuk rangkaian kereta, membiasakan kusir kereta, dan dapat memperkirakan area parkir kuda yang dibutuhkan di Bangsal Kepatihan.
Sultan menaiki kereta kuda untuk menuju tempat resepsi ini tidak dilakukan ketika putri kelimanya GKR Bendara melangsungkan pernikahannya pada Oktober 2011 lalu.
Saat itu, Sultan menggunakan mobil untuk menuju Bangsal Kepatihan. “Ini karena mantu terakhir,” kata Yudha.
Menurutnya, pada pernikahan GKR Hayu nanti akan ada sembilan kereta yang digunakan. Selain kereta Sultan dan manten, kereta-kereta lainnya itu diperuntukan untuk saudara-saudara Sultan, penari, mantu, dan mereka lainnya yang terlibat dalam pernikahan tersebut.
Yudha mengatakan, kereta-kereta itu akan diperbaiki terlebih dahulu sebelum digunakan untuk acara pernikahan. Termasuk kereta Kyai Jongwiyat yang akan digunakan oleh GKR Hayu beserta suaminya KPH Notonegoro akan diperbaiki seluruh kondisi fisiknya, mulai dari tempat duduk sampai cat.
“Cat perlu karena kereta itu sudah terlihat kumuh, sehingga tidak enak dilihat,” katanya.
Yudha menambahkan, saat hari H pelaksanaan nanti, Kraton akam menambah kebutuhan kuda dengan meminta bantuan dari Kavaleri Berkuda di Parongpong, Bandung. “Ada bantuan dari negara sebanyak 20 kuda,” ujarnya.

*harianjogja.com
 
Veritra Sentosa International | Bisnis MLM Ustad Yusuf Mansyur | MLM Terbaru |

BLOG LINK

Terima kasih atas kunjungan anda

Salam sukses dari kami

**MaliharjoNews**

Azaria Network
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Maliharjo News. - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger