Rabu sore, 23 Oktober 2013, Masjid Nurul Irfaan, Kampus A Universitas Negeri Jakarta (UNJ) nampak semarak dengan rangkaian kegiatan UNJ Islamic Book Fair yang telah berlangsung sejak dua hari sebelumnya. Berbagai stand buku yang berdiri di sekitar Masjid Nurul Irfaan nampak ramai dikunjungi mahasiswa. Sekitar pukul 16.00 WIB, semakin banyak yang berkumpul untuk mengikuti kajian bedah buku Islam Liberal 101 bersama penulisnya, Akmal Sjafril.
Kehadiran Akmal ke Kampus UNJ, terutama di Masjid Nurul Irfaan, memang bukan yang pertama kalinya. Akmal sering diundang untuk membicarakan tema-tema seputar Islam liberal dan ghazwul fikri secara umum. Hanya saja, kehadirannya kali ini dianggap cukup spesial karena membawakan tema bedah buku Islam Liberal 101.
"Undangan ke acara ini cukup mengejutkan. Tadinya saya kira akan diminta membawakan kajian seputar Islam liberal atau ghazwul fikri. Baru beberapa hari yang lalu saya diberi tahu bahwa tema yang diharapkan adalah bedah buku Islam Liberal 101. Ini adalah sebuah kehormatan bagi saya, sebab buku Islam Liberal 101 tidak bisa lagi disebut sebagai buku baru, tapi ternyata masih ada yang ingin membedahnya," ujar Akmal.
Buku Islam Liberal 101 pertama kali diterbitkan pada bulan Desember 2010 melalui Penerbit Indie Publishing. Sampai sekarang, buku ini telah terjual nyaris sebanyak 6.000 kopi. Meski sebagian besar dipasarkan secara online, namun buku ini telah berhasil menarik perhatian masyarakat luas, bahkan sampai ke luar negeri.
"Buku ini saya tulis khusus untuk masyarakat awam yang baru mulai mengkaji fenomena Islam liberal. Dengan membaca buku ini, saya berharap para pembaca memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap ancaman serangan pemikiran dari kalangan sekularis-liberalis, mampu mengenali kesesatannya, bahkan juga mampu untuk membantahnya," ungkap sang penulis.
Dikemas dalam bentuk yang ringkas dan disajikan secara sederhana ke dalam lima bab, banyak kalangan berpendapat bahwa kandungan buku Islam Liberal 101 mampu meruntuhkan ‘mitos intelektual' yang selama ini selalu digunakan oleh kalangan liberalis. "Mengenali penyimpangan Islam liberal tidak sulit, asal kita tahu modus operandinya bagaimana. Argumennya pun begitu-begitu saja. Mereka sering memanipulasi ayat, tapi caranya tidak canggih. Insya Allah semua orang mampu menghadapi tantangan pemikiran ini," kata salah seorang aktivis #IndonesiaTanpaJIL ini.
"Kalangan liberalis selalu menggunakan logika sebagai ‘tameng', padahal sebenarnya logika merekalah yang keliru. Jadi jangan salahkan akal, seolah-olah orang akan jadi menyimpang bila menggunakan akal. Kalau kita menggali lebih dalam, kita akan dengan mudah menemukan kesalahan-kesalahan logika mereka," pungkas Akmal.
Hal unik yang dijumpai dalam acara bedah buku kali ini adalah bahwa buku yang dibedah ternyata tidak tersedia. Buku yang sudah mencapai cetakan keenam ini memang sudah habis dan sedang dalam proses cetak ulang yang berikutnya. Meski demikian, antusiasme peserta terhadap Islam Liberal 101 nampaknya tidak berkurang. Terbukti, banyak yang mencatatkan namanya kepada panitia untuk dimasukkan ke dalam daftar pemesanan buku tersebut. (mal/ds)




Posting Komentar